Page 170 - index
P. 170
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
masyarakat postmodernisme, sumber pengetahuan dan kebenaran pe-
nge tahuan tidak lagi didominasi oleh logika sains yang tunggal, homo-
log dengan mengacu pada nalar positivisme, tetapi kebenar an penge-
tahuan kini telah menyebar dan plural—suatu paralogy yang bera gam.
Bagi Lyotard, postmodern yaitu upaya intensiikasi dinamis—suatu
upaya yang tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan, eksperimentasi
dan revolusi kehidupan terus-menerus. Postmodernisme yaitu wadah
Prenada Media Group
berbeda-
beda. Ilmu pengetahuan postmodern bukanlah semata-mata menjadi
alat penguasa; ilmu pengetahuan postmodern memperluas kepekaan
kita terhadap pandangan yang berbeda, dan memperkuat kemampuan
kita untuk bertoleransi atas pendirian yang tidak mau dibandingkan
(Maksum, 321).
estetik dan politik tentang diskursus, Lyotard disebut Bill Readings (li-
hat Sumakul, 2012: 39) sebagai ilsuf yang mampu bergerak melampaui
batasan-batasan metaisika—terorisme kebenaran—tanpa harus dirinya
sendiri jatuh ke dalam kepuasan suatu metabahasa, tanpa mengklaim
suatu teori modular yang mencari jaminan diri sendiri dengan membuat
tertarik pada realitas supradiskursus.
Menurut para ilsuf postmodern seperti Lyotard, Foucault, Derrida,
dan Baudrillard, proyek modernitas masyarakat yang menem patkan ke-
majuan sebagai arah dan tujuan gerakan dinilai hanya lah ben tuk grand
narrative yang tidak berbeda dengan mitos karena terlalu menekankan
universalitas dan kebenarannya yang tunggal. Jika di kalang an ilsuf mo-
dern sering kali dikedepankan terminologi seperti universalitas, eman-
sipasi, dan kebebasan, maka di kalangan ilsuf postmodern terminologi
yang populer umumnya yaitu pluralisme, fragmentasi, heterogenitas,
skeptisisme, dekonstruksi, am bi guitas, ketidakpastian, dan perbedaan.
Universalitas dikritik ilsuf postmodern seperti Lyotard sebagai sua-
tu kemustahilan, karena setiap pengetahuan telah memiliki language
game-nya sendiri-sendiri. Pemikiran ilsuf modern yang menempatkan
subjek sebagai sentral dikritik bahkan ditolak ilsuf postmodern, karena
meletakkan emansipasi subjek yang rasional sebagai alat pencapaian
kebenaran, yang pada akhirnya berusaha menotalkan dirinya sebagai
metawacana (Santoso et al., 2012: 336).
158

