Page 175 - index
P. 175
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
Lyotard menyatakan bahwa ilsafat senantiasa berurusan dengan
sengketa. Berbeda dengan litige (perkara), yang disebut differend (seng-
keta), menurut Lyotard yaitu konlik di mana tidak ada aturan yang me-
mungkinkan untuk menilai argumentasi dari kedua pihak yang terkait.
Kedua-duanya memiliki diskursus sendiri-sendiri. Satu diskurus tidak
bisa ditundukkan oleh diskursus yang lain, dan tidak ada metadiskur-
sus yang mengatasi keduanya untuk kesatuan yang memuaskan kedua
Prenada Media Group
belah pihak. Di era masyarakat postmodernitas, subjek dan rasio pecah,
dan menurut Lyotard ilsafat tidak bertugas meniadakan keadaan yang
terpecah-pecah itu, tetapi justru mengakuinya dan membiarkan semua
diskursus itu sebagai tak terhindarkan (Bertens, 2006: 394).
e. teorI sosIAl PostmoDerN
Para teoretisi postmodern, mereka semua umumnya sepakat ber-
seberangan dengan teoretisi modern, dan melontarkan kritik terhadap
kegagalan proyek modernitas yang dinilai hanya melahirkan kemiskinan,
ketimpangan, dan ketidakadilan. Berbagai kemajuan di bidang ekonomi
yang berhasil dicapai negara-negara maju yang menerapkan kebijakan
modernisasi, ternyata tidak diikuti dengan makin meningkatnya kese-
jahteraan masyarakat; kemiskinan tetap tak kunjung tertangani, dan
pe ngangguran justru makin bertambah ketika sektor perekonomian me-
lakukan penghematan dan restrukturisasi industri (lihat Ritzer, 2010: 61).
Meski semua teoretisi postmodern pemikirannya bertitik tolak dari
keprihatinan terhadap kegagalan proyek modernisasi. Namun demikian,
di kalangan teoretisi postmodern sendiri sesungguhnya tidak semua
memiliki pola pemikiran yang sama dalam memahami perkembangan
masyarakat postmodernisme. Secara garis besar, di kalangan teoretisi
postmodern dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, posisi
postmodernis yang ekstrem yaitu mereka yang meyakini telah terjadi
suatu pemisahan yang radikal di mana masyarakat modern telah digan-
tikan kehadirannya oleh masyarakat postmodern. Teoretisi post-mo-
dern kategori ini antara lain Jean Baudrillard, Gilles Deleuze, dan
Felix Guattari. Kedua, teoretisi postmodern yang melihat adanya kesi-
k postmodernitas. Tok
163

