Page 173 - index
P. 173
BaB 6 | Teori Sosial Postmodern
nya. Iptek, terutama dalam bentuk informatika dan sibernetika tidak
berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia, tetapi hanya sesuai de-
ngan performativitas. Di mata Lyotard, kemajuan teknologi justru meng-
akibatkan perang total, totalitarisme dalam pelbagai bentuk, kesenjang-
an yang semakin melebar, pengangguran dan krisis pendidikan tinggi
(Bertens, 2006: 388).
Menurut Lyotard pada era informasi di mana kerumitan diang-
Prenada Media Group
gap semakin meningkat, maka semakin jauhlah kemungkinan adanya
penjelasan tunggal atau ganda tentang pengetahuan atau ilmu. Ada-
penaikan,
emansipatoris,
pengetahuan tidak bisa bersandar pada satu narasi besar, sehingga ilmu
itu sekarang paling baik dipahami dalam pengertian “permainan baha-
sa”. Seperti yang dikemukakan oleh Lyotard: “Ilmu pengetahuan tidak
me miliki metabahasa umum di mana semua keberagaman bahasa lain
dapat diterjemahkan dan dievaluasi. Tidak terdapat alasan untuk me-
mikirkan adanya suatu kemungkinan menentukan metapreskripsi yang
berlaku bagi semua permainan bahasa itu atau bahwa suatu konsensus
yang dapat direvisi seperti metapreskripsi yang berlaku pada waktu itu
dalam masyarakat ilmiah yang dapat mencakup keseluruhan metapre-
skripsi yang mengatur pernyataan-pernyataan yang beredar dalam ko-
lektivitas sosial” (Lyotard, 1989: 64-5).
Sebagai seorang profesor dan ilsuf postmodern, Lyotard menaruh
perhatian khusus pada bidang seni dan bahasa, terutama tentang retori-
ka, yaitu pengungkapan ide-ide dan perasaan yang melampaui pemikir-
an rasional. Eksperimen seni dengan kemungkinan representa si kadang
kala menciptakan mode representasi baru (modernisme), dan kadang-
kadang mewakili yang tak terwakili, mengungkapkan yang tidak dapat
dikatakan. Bahasa, dalam pandangan Lyotard tidak hanya mewakili du-
nia objek, tetapi dalam bahasa kita melakukan banyak tindak an, yang
disebut Wittgenstein sebagai “permainan bahasa”. Lyotard te lah mem-
beri penekanan pada dimensi antagonis dari permainan ini, dan meng-
akui sifat yang tidak dapat dirukunkan dari apa yang ia sebut se bagai
frase-frase dalam bahasa (Steuerman, dalam Kuper & Kuper, 2000: 590).
Filsafat postmodern, singkat kata bisa dikatakan sebagai semacam
161

