Page 152 - index
P. 152

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

            double coding. Double coding adalah prinsip arsitektur postmodern yang
            memuat tanda, kode, dan gaya yang berbeda dalam suatu konstruksi ba-
            ngunan. Arsitektur postmodern yang menerapkan prinsip double coding
            selalu merupakan campuran eklektis antara tradisional/modern, popu-
            ler/tinggi, barat/timur, atau sederhana/complicated (Ritzer, 2010: 38).
                Robert Venturi,  arsitek sekaligus teoretisi awal konsep arsitektur
            postmodern, dalam bukunya Complexity and Contradiction in Architecture
        Prenada Media Group
            (1966) menyatakan bahwa arsitektur postmodern adalah konsepsi teo-
            retis arsitektur yang memiliki beberapa karakter. Menurutnya, arsitektur
            postmodern lebih mengutamakan elemen gaya hibrida (ketimbang yang
            murni),  komposisi  paduan  (ketimbang  yang  bersih),  bentuk  distorsif
            (ketimbang yang utuh), ambigu (ketimbang yang tunggal), inkonsisten
            (ketimbang yang konsisten), serta kode ekuivokal (ketimbang yang mo-
            novokal) (lihat Ritzer,  2010: 37).  Sementara itu,  Daniel Bell—seorang
            ahli komunikasi yang disebut-sebut dalam banyak literatur tentang
            postmodern sebagai perintis teori postmodern—melihat bahwa post-
            modernisme sesungguhnya yaitu sebagai puncak tendensi perlawanan
            terhadap modernisme,  dengan hasrat,  insting dan kegairahan untuk
            membawa logika modernisme hingga ke titik terjauh yang mungkin bisa
            dicapai (Lihat Featherstone, 1988: 203-204).
                Postmodernisme menawarkan ciri-ciri yang bertolak belakang de-
            ngan watak era pendahulunya,  yakni menekankan emosi ketimbang
            rasio,  media ketimbang isi,  tanda ketimbang makna,  kemajemukan
            ketimbang penunggalan, kemungkinan ketimbang kepastian, permain-
            an ketimbang keseriusan, keterbukaan ketimbang pemusatan, yang lo-
            kal ketimbang yang universal, iksi ketimbang fakta, estetika ketimbang
            etika, dan narasi ketimbang teori. Karakter yang sering disuarakan post-
            modernisme antara lain pluralisme, heterodoks, eklektisisme, keacakan,
            pemberontakan, deformasi, dekreasi, disintegrasi, dekonstruksi, pemen-
            caran,  perbedaan,  diskontinuitas,  dekomposisi,  de-deinisi,  de-mistii-
            kasi, delegitimasi, serta demistiikasi (Bertens, 1995: 44).
                Sebagai suatu aliran ilsafat maupun gerakan intelektual, postmo-
            dern pada intinya prihatin terhadap eksistensi wacana nonlinier,  eks-
            presif,    suprarasional,          k
            pengaruh Pencerahan (O’Donnell,  2009: 6).  Berbeda dengan teori so-



            140
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157