Page 150 - index
P. 150
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
zaman baru yang lahir setelah Perang Prancis-Prussia (Franco-Prussia
War) sebagai era postmodern (postmodern age). Di era postmodern, dua
ciri utama yang menandai masyarakat post-industrial antara lain: (1)
bangkitnya kelas pekerja industri di Barat; dan (2) adanya kaum genera-
si penerus intelektual dari luar Barat yang menguasai rahasia moderni-
tas dan kemudian mereka berubah menentang Barat. Menurut Toynbee
(1954: 757), pengertian postmodernisme dipandang lebih berkonotasi
Prenada Media Group
negatif.
Selain di Inggris, pada akhir 1950-an, istilah postmodernisme juga
mulai muncul dan populer di Amerika, tetapi istilah ini lebih dipahami
sebagai semacam pertanda buruk (negative marker) terhadap apa yang
modern. P 1954, C. W Ir Howe, so-
siolog yang berasal dari kaum Kiri New York, memakai istilah postmo-
dernisme untuk menunjuk suatu zaman di mana ide-ide modern me-
ngenai liberalisme dan sosialisme telah ambruk, karena akal dan berbagai
kebebasan dalam satu masyarakat postmodern yang terombang-ambing
dan konformitas yang kosong (Anderson, 2008: 18-19). Pada 1959, isti-
lah postmodern juga digunakan di bidang ekonomi, yakni lewat buku
Peter F. Drucker The Landmarks of Tomorrow yang menyebutkan post-
modern sama artinya dengan pasca-industri, pascakapitalis dan revolusi
gelombang ketiga.
Istilah postmodernisme makin populer pada 1960-an, ketika para
seniman muda, penulis, dan kritikus seni seperti Susan Sontag, Lieslie
Fiedler, John Cage, Robert Rauschenberg, Alain Robbbe-Grillet, John
Bart, dan Thomas Pynchon menggunakannya sebagai nama untuk me-
nandai gerakan penolakan terhadap seni modernisme lanjut (lihat
Ritzer, 35-37). P
untuk menunjuk pada sesuatu yang melebihi (beyond) modernitas tinggi
(hight modernity) yang diinstitusionalisasikan di museum dan akademi.
Sepanjang 1960-an, penggunaan istilah postmodernisme selanjut-
nya perlahan-lahan mulai menyentuh bidang yang lain. Dalam bidang
arsitektur, istilah postmodernisme mengacu kepada perlawanan bentuk
arsitektur modern yang menonjolkan keteraturan, rasionalitas, objek-
tif, praktis, isotropis, mesin,
dewa.
138

