Page 317 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 317
Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik
untuk menyediakan serangkaian pelatihan, pembelajaran di tempat kerja,
dan praktik pengembangan karir, yang dapat dimanfaatkan oleh karyawan.
Dengan kontribusi positif kedua faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa
penting juga untuk menumbuhkan lingkungan semangat belajar dimana
partisipasi aktual dalam pembinaan kompetensi disupport oleh para
pimpinan, kawan bekerja dan organisasi kerja seseorang. Pada tingkat
teoritis, temuan ini menyiratkan bahwa relevan untuk mencakup perspektif
individu dan organisasi saat mempelajari model kelayakan kerja, dan bukan
hanya menangani salah satu dari keduanya. Hal ini juga konsisten dengan
berkembangnya konsensus dalam literatur karir baik individu maupun
inisiatif manajemen karir organisasi penting untuk menjelaskan hasil karir
karyawan (misalnya De Vos, Dewettinck, & Buyens, 2009).
Kedua, bukti empiris diberikan untuk hubungan positif antara
kemampuan kerja yang dirasakan sendiri di satu sisi, dan kepuasan karir
dan perceived marketability (penerimaan kelaikan kerja) di sisi lain,
memberikan dukungan empiris untuk klaim teoritis bahwa kemampuan
kerja merupakan prediktor kesuksesan karir (Forrier & Sels , 2003;
Hall, 2002; Van der Heijde & Van der Heijden, 2006). Sampai sekarang,
belum ditemukan studi yang menemukan bukti empiris untuk asosiasi
ini. Temuan ini memberikan dukungan lebih jauh untuk gagasan yang
penting bagi mobilitas model karir (Rosenbaum, 1994), bahwa elemen
modal manusia terkait dengan kesuksesan karir, dan menanggapi kajian
Ng et al. (2005) untuk memasukkan variabel human capital yang lebih luas
dalam studi kesuksesan karir. Selain itu, sampai saat ini, hanya sejumlah
penelitian terbatas yang mencakup penerimaan kelaikan kerja sebagai
indikator keberhasilan karir (De Vos & Soens, 2008; Eby et al., 2003).
Dengan demikian, penelitian ini dapat menambah literatur karir dengan
memasukkan operasionalisasi konsep kesuksesan karir yang lebih luas
yang sejalan dengan klaim teoritis tentang perubahan sifat karir (Heslin,
2005).
Akhirnya, hasil kajian ini memberikan dukungan untuk peran mediasi
(peran parsial) dari kemampuan kerja yang dirasakan sendiri dalam
keterkaitan antara pembinaan kompetensi dan keberhasilan profesi. Lebih
khusus lagi, efek mediasi penuh dari kemampuan kerja yang dirasakan
sendiri ditemukan untuk korelasi antara keterlibatan pegawai dalam
prakarsa pembinaan kompetensi dan keberhasilan profesi, sementara efek
mediasi parsial ditemukan untuk korelasi antara support yang dirasakan
untuk pembinaan kompetensi dan keberhasilan pekerjaan. Oleh karena
itu, temuan ini menggarisbawahi pentingnya membedakan antara kedua
dimensi pengembangan kompetensi ini. Secara global, analisis korelasi
tidak langsung antara pembinaan kompetensi dan keberhasilan kerja lewat
Sugandi 297

