Page 198 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 198

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            referensi digital tersedia hanya melalui surat elektronik atau e-mail. Pada
            tahun  1996,  program  pertama  sistem  layanan  referensi  berbasis  e-mail
            mulai dikembangkan oleh Eric Lease Morgan, dikenal dengan proyek ‘See
            You See a Librarian’ (Zanin-Yost, 2004:6).
                Perkembangan  teknologi  informasi  dan  komunikasi  ini  sangat
            mempengaruhi  perilaku  pemustaka  dalam  menelusur  informasi  atau
            memanfaatkan layanan dan fasilitas yang ada di perpustakaan. Pemustaka
            dituntut  untuk dapat  beradaptasi  dengan realitas  digital  yang ada.
            Bertahan dengan koleksi atau sumber daya informasi tercetak tidak akan
            memecahkan  kebutuhan  mereka  akan  literatur. Di sisi lain,  pustakawan
            sebagai penyedia informasi juga mengalami transformasi dalam menyikapi
            perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Pustakawan
            berasumsi bahwa pemustaka sudah bisa mandiri mencari informasi di dunia
            maya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan
            pemustaka dalam menelusur sehingga mereka tidak memerlukan bantuan
            pustakawan  lagi.  Hal  ini  terbukti  dari  rendahnya  pemanfaatan  layanan
            referensi.  Ini  membuktikan  bahwa    pustakawan  tetap  melihat  statistik
            kunjungan  secara  fisik  atau  tatap  muka  sebagai  indikator  keberhasilan
            layanan  referensi.  Digitalisasi  koleksi yang  memudahkan  akses dan
            mengatasi batasan geografis ternyata tidak mengubah pandangan sebagian
            pustakawan  dalam  memaknai  relasi  manusia  dengan  teknologi. Artinya
            manusia tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi oleh teknologi.
                Dilain sisi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi justru
            menuntut pustakawan untuk menyesuaikan     diri dan mengubah layanan
            yang  diberikan  pada  pemustaka.  Pemanfaatan  teknologi  informasi  dan
            komunikasi  oleh  pemustaka  akan  sangat  tergantung  pada  pustakawan.
            Manusia dapat dipengaruhi  oleh teknologi,  dan teknologi memudahkan
            manusia  untuk melakukan  interaksi  sosial diantara  mereka.  Manusia
            dapat mengakomodasi  teknologi  sebagai alat  bantu dalam pengelolaan
            perpustakaan.  Pustakawan  memanfaatkan  teknologi  dalam  layanan
            referensi sebagai alat bantu penelusuran dan sebagai media komunikasi
            pengganti temu muka langsung menjadi virtual.
                Anggapan  pustakawan  bahwa  perkembangan  teknologi  informasi
            dan komunikasi menjadikan pemustaka mandiri dalam menelusur sendiri,
            dibantah  oleh    pemustaka    yang    justru  sangat  memerlukan  bantuan
            pustakawan untuk menelusur.   Mereka juga mengakui bahwa pustakawan
            lebih menguasai keterampilan itu;  pustakawan  lebih  cepat  menemukan
            informasi yang akurat, yang merupakan domain pustakawan.  Selain itu
            masalah    waktu,  kesulitan  akses    dan  fasilitas  yang  tidak  memuaskan
            menyebabkan  pemustaka  tetap  memerlukan  bantuan  pustakawan.
            Penguasaan  keterampilan  menelusur  informasi  merupakan  ketrampilan

            178                      Komodifikasi Pemustaka dalam Transformasi Layanan ...
   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203