Page 128 - index
P. 128
Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer
Bagaimana nasib sang tokoh dalam cerita online tidak tergantung pada
cerita yang tertera dalam buku digital, tetapi sepenuhnya tergantung dan
dikendalikan menurut kehendak orang per orang. ‘Seperti pada bu ku se-
seorang diceritakan akan mati,’ akan tetapi yang namanya anak muda
akan dapat mengubahnya sehingga orang itu tidak mati atau men jadikan
orang lain yang kau tidak sukai itu mati’ (Rich, 2008, dalam Dresang dan
Kyungwon (2009). Apa yang terjadi di era revolusi informa si merupakan
Prenada Media Group
cara media digital menarik dan melibatkan masyarakat mu da dengan me-
nyediakan forum bagi mereka untuk berbicara atas diri mereka sendiri,
dan justru di sinilah yang menjadi salah satu daya tarik bagi kaum muda.
Kedua, di era digital, kaum muda cenderung memperlihatkan iden-
titas dengan cara menciptakan informasi. Kaum muda era digital yaitu
“pencipta informasi dalam konteks sosial yang lebih besar” (Radford et al.,
2008, dalam Dresang dan Kyungwon (2009)). Anak-anak muda yang terli-
bat dalam kegiatan virtual dengan menggunakan wiki, blog, dan situs jaring-
an sosial tidak hanya mengekspresikan pendapat atas diri mereka sendiri,
tetapi juga membentuk identitas mereka. Apa yang ditampilkan anak-anak
muda ketika berselancar di dunia maya, seperti penggunaan avatar, tanda
tangan e-mail, nama panggilam IM, dan pengaturan homepage dan blog
personal merupakan suatu proses formasi dan ekspresi identitas sosial
mereka kepada sesama komunitas di cyberspace. Dalam perkembang an
yang terakhir belakangan ini, bahkan tidak sedikit anak-anak muda yang
mampu membuat foto atau video digital, dan secara kreatif memanfaat-
kan teknologi informasi dan terlibat dalam produksi media.
Weber dan Mitchell (2008) merumuskan istilah identities-in-action
untuk menjelaskan interaksi penggunaan teknologi informasi di ka-
langan kaum muda, karena “produksi situs web personal memberikan
arti berbeda bagi masyarakat muda dalam konstruksi dan membentuk
identitas mereka melalui gambar dan kata. Sementara itu, studi yang di-
lakukan Stern (2008) menemukan dalam mengekspresikan diri mereka
secara online, anak-anak muda umumnya berkonsentrasi pada home-
page dan blog personal mereka. Stern menyatakan bahwa ekspresi online
kaum muda dapat dipandang sebagai releksi diri, katarsis, dokumentasi
pribadi, ekperimen identitas, dan validasi sosial dari para audience/pe-
mirsa (lihat Dresang dan Kyungwon, 2009).
116

