Page 190 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 190

Kajian Dalam Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi: Filosofi, Teori, dan Praktik

            Indikator tersebut meliputi fungsi pustakawan dalam memberikan layanan
            referensi,  dan  bagaimana  pustakawan  memberikan  layanan  kepada
            pemustaka. Menurutnya pustakawan bersikap pasif menunggu pemustaka
            dalam memberikan layanan, pustakawan harus multi tasking, dan layanan
            referensi  belum  sepenuhnya  mencerminkan  layanan  fungsi  penyebaran
            informasi.
                Ranti  (2009)  mengkaji  pendapat  pemustaka  tentang  perilaku
            pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di Perpustakaan PDII-
            LIPI.  Ia  menyimpulkan  bahwa  pustakawan  cenderung  pasif  dalam
            melayani  pemustaka,  dan  pustakawan  juga  harus  dapat  mengerjakan
            pekerjaan lainnya. Ini menunjang tulisan Ranti yang mengatakan hal yang
            sama. Ranti juga menyebutkan bahwa pustakawan sebaiknya mempunyai
            kemampuan komunikasi verbal maupun  non-verbal yang memadai.
                Komarudin  (2009)  menyatakan  pemustaka  mempunyai    persepsi
            negatif terhadapkoleksi, pustakawan, dana, dan fasillitas layanan referensi
            di Perpustakaan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri. Menurutnya,
            perpustakaan  perlu  meningkatkan  koleksi  rujukan  baik  secara  kuantitas
            maupun kualitas, meningkatkan pengetahuan dan sikap pustakawan, serta
            fasilitas layanan referensi.
                Lain pula dengan Elita (2014) yang  menggunakan dimensi kualitas
            LibQual+TM  dalam  mengevaluasi  layanan  referensi  di  Perpustakaan
            UI.  Analisisnya  menyimpulkan  bahwa  secara  umum  kualitas  layanan
            referensi  berada  pada  zone  of  tolerance,  yaitu  memenuhi  harapan
            minimum pemustaka. Kajian lain mengenai layanan referensi dilakukan
            oleh Mukminin (2014) yang meneliti Customer Relationship Management
            (CRM) pada layanan referensi di Perpustakaan Universitas Indonesia.
                Perkembangan  layanan  referensi  digital  antara  tahun  1980  sampai
            pertengahan tahun 1990 memang belum signifikan. Baru pada pertengahan
            tahun 1990-an layanan referensi digital mengalami perkembangan cukup
            pesat. Pada awal kemunculannya layanan referensi digital tersedia hanya
            melalui surat elektronik atau e-mail. Pada tahun 1996, program pertama
            sistem layanan referensi berbasis e-mail mulai dikembangkan oleh Eric
            Lease Morgan, dikenal dengan proyek ‘See You See a Librarian’ (Zanin-
            Yost,  2004:6).  Dewasa  ini  studi  tentang  layanan  referensi  digital  di
            perpustakaan  mulai  banyak  dilakukan  termasuk  juga  layanan  referensi
            digital  perpustakaan  perguruan  tinggi.  Beberapa  studi  yang  pernah
            dilakukan antara lain oleh  Diamond dan Pease (2001), Irmaya Medikani
            (2004), Eylem Ozkaramanl (2005), Wyoma van Duinkerken, et.al (2009),
            Ramos  dan Abrigo  (2009),  Wolfe,  Naylor,  dan  Drueke  (2010), Yeremi
            Kevin (2014), serta Iswanda Fauzan Satibi (2014).
                Kajian yang dilakukan oleh Diamond dan Pease (2001) berjudul ‘Digital

            170                      Komodifikasi Pemustaka dalam Transformasi Layanan ...
   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195