Page 108 - index
P. 108

Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer

                Pertama, pada tingkat individu, cyberspace telah menciptakan per-
            ubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang identitas.  Setiap
            individu dalam dunia virtual dapat membelah pribadinya menjadi priba-
            di yang tidak terhingga banyaknya, sehingga terjadinya permainan iden-
            titas, identitas baru, identitas palsu, identitas ganda, yang bisa saja sama
            atau berbeda dengan identitas sosial di dunia nyata. Dengan memasang
            foto orang lain atau foto dirinya yang sudah diedit, maka dengan mudah
        Prenada Media Group
            orang yang bersangkutan untuk membangun konstruksi baru tentang
            dirinya yang berbeda dengan kehidupan dia di dunia nyata.
                Kedua, pada tingkat interaksi sosial, kehadiran cyberspace telah me-
            lahirkan semacam deteritorialisasi sosial, artinya interaksi sosial tidak
            dilakukan di dalam suatu ruang teritorial yang nyata,  tetapi di dalam
            suatu halusinasi teritorial: seseorang bisa saja terasa sangat intim de-
            ngan orang lain di dunia maya yang ada di belahan dunia lain tanpa per-
            nah sekalipun ketemu,  ketimbang saudara kandung atau tetangganya
            sendiri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di antara sesama anggota ko-
            munitas cyberspace, sering mereka menjadi sangat akrab, saling curhat
            persoalan apa pun, tanpa risih—meskipun satu dengan yang lain tidak
            pernah sekalipun pernah bertemu di dunia nyata.
                Ketiga,  pada tingkat komunitas,  kehadiran cyberspace  dapat men-
            ciptakan satu model komunitas demokratik dan terbuka yang disebut
            Rheingold dengan istilah “komunitas imajiner” (imaginary community).
            Di sisi lain, di dunia maya juga tidak terhindarkan munculnya semacam
            demokrasi radikal, yang di dalamnya ide, gagasan, ekspresi, hasrat, ke-
            inginan, tuntutan, kritik, usulan, dan segala bentuk tindakan sosial yang
            datang dari masyarakat sipil tidak ada yang mengatur, mengontrol, dan
            memberi penilaian.
                Berbeda dengan interaksi tatap muka atau interaksi melalui tele-
            pon di mana ada banyak petunjuk untuk mengindikasikan identitas
            seseorang dan maksud mereka,  di dunia maya atau di dalam interaksi
            online yang terjadi umumnya yaitu ketidakjelasan, karena di sana tidak
            banyak petunjuk dan tanda yang bisa dijadikan acuan untuk memahami
            identitas sosial seseorang.  Namun demikian,  seperti dikatakan Smith
            dan Kollock (2005), bahwa kurangnya tanda dalam interaksi online telah
            membatasi sekaligus menjadi sumber daya, karena menghasilkan jenis



            96
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113